English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

rss

Satu Ayat

About Me

Foto saya
hello semuanya.. selamat datang di blog ku yang pertama..!!! kalo kalian kunjungi blog ku.."jangan lupa kasih komentar yaa.." ehm yang banyak link tentang komputer....,tukeran yuxx...,bagi - bagi informasi gtu... hohohooho
Tampilkan postingan dengan label antariksa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label antariksa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Maret 2008

Sumber Minyak Melimpah di Luar Angkasa


Perbandingan Bumi dengan Titan, salah satu bulannya Planet Saturnus.
Di tengah cadangan minyak semakin menipis dan harga yang bergejolak, siapa menyangka kalau nun jauh di luar angkasa terdapat sumber minyak yang sangat melimpah dan lebih besar dari seluruh cadangan minyak di Bumi. Baru-baru ini para peneliti menyiarkan bahwa Titan, salah satu bulannya Planet Saturnus yang beratmosfer tebal, menyimpan kandungan gas alam dan cairan hidrokarbon lain ratusan kali lipat lebih banyak dari yang terkandung di Bumi.

Sejauh ini telah ditemukan beberapa ratus danau dan laut di daerah kutub utara Titan. Untuk mendapatkan gambaran potensi sumber daya alam disana, ilmuwan mengukur kedalaman perairan disana dengan menggunakan pembanding danau-danau di Bumi, dimana kedalaman danau seringkali kurang dari 10 meter.

"Dengan demikian kita tahu kedalaman beberapa danau lebih dari 10 meter, karena mereka tampak sangat gelap di radar. Kalau dangkal, kita akan dapat melihat dasarnya," kata Ralph Lorenz dari laboratorium fisika terapan di John Hopkins University.

Kesimpulan tersebut didapat berdasarkan pemantauan melalui wahana Cassini milik NASA, yang telah menuntaskan survei terhadap 20 persen permukaan Titan. Hasil pantauan tersebut juga memperlihatkan bahwa kandungan sumber daya alam di beberapa wilayah di bulan itu saja sudah lebih banyak dari semua kandungan sumber daya alam di bumi (minyak bumi, gas alam dan batu bara).

Meskipun demikian, para peneliti juga mengatakan bahwa Titan tidak dapat ditinggali manusia. Menurut mereka, permukaanya tidak mengandung air, melainkan hidrokarbon cair dalam bentuk methane dan ethane, sementara daratannya terbentuk dari tholins. Kondisi ini diduga serupa dengan Bumi pada waktu sebelum ada kehidupan.

"Kami memperkirakan kodisi serupa juga terdapat di daerah kutub selatan, namun kami belum tahu berapa jumlah kandungan cairan disana," kata Ralph. Menurut dia, data ini penting karena umur hidup Titan tergantung dari berapa banyak jumlah methane yang terkandung dalam zat cair disana.

Lanjutnya, jika kandungan methane habis, maka suhu disana akan semakin dingin, yang saat ini diketahui minus 179 derajat Celcius. Asumsi sementara, kandungan methane tersebut semakin berkurang melalui letusan gunung api, yang diperkirakan telah menyebabkan fluktuasi suhu yang dramatis di masa lalu.

"Memahami kompleksitas yang terjadi di Titan dapat membantu kita memahami asal-usul kehidupan di alam semesta,” kata Ralph Selengkapnya...

Kawah Misterius Kembali Terekam di Merkurius



Foto-foto terakhir permukaan Planet Merkurius menunjukkan bentuk-bentuk kawah yang mengejutkan. Sebelumnya terlihat kawah seperti laba-laba, kini ditemukan dua kawah baru yang masih menjadi teka-teki para ilmuwan.

Kedua kawah yang dipotret wahana Messenger saat melintasi dekat Planet Merkurius 14 Januari 2008 lalu terlihat dikelilingi halo atau lingkaran gelap. Kawah lainnya bahkan begitu misterius dengan dasar yang mengilap. Diameter terbesar pada salah satu kawah sekitar 64 kilometer.

"Halo-halo ini sungguh menakjubkan," ujar Clark Chapman, salah satu tim peneliti misi Messenger dari Southwest Research Institute di Boulder, Colorado, AS. "Kami belum pernah melihat sesuatu seperti ini di Merkurius dan formasinya masih misterius."

Kedua jenis kawah berada di Basin Caloris, salah satu kawasan cekungan raksasa di planet paling dekat dengan Matahari itu. Cekungan seluas ribuan kilometer persegi itu diperkirakan terbentuk miliaran tahun lalu saat Merkurius dihantam sebuah komet atau asteroid.

Chapman berpendapat halo mungkin lapisan material di bawah permukaan cekungan sehingga warnanya berbeda dengan kawah yang permukaannya jauh lebih dalam. Kemungkinan lainnya, halo berasal dari lelehan material yang terkumpul di tepian kawah.

Jika benar, kawah-kawah tersebut mungkin tak berbeda dengan salah satu jenis kawah di Bulan yang diberi nama Tycho. Bedanya, halo di sekeliling Tycho tidak melingkar utuh, sedangkan di Merkurius sangat mudah dilihat.

Sementara bagian mengilap di dasar kawah mungkin es yang terkena sinar Matahari. Namun, hal tersebut bisa dikatakan mustahil karena suhu dasar kawah saat direkam diperkirakan 400 derajat Celcius. Mungkin saja itu adalah material dari permukaan yang memiliki sifat dapat menyala di kegelapan.

"Data-datanya masih dikalibrasi dan dianalisis," ujar Chapman. Jika misteri tersebut tak terpecahkan juga, Messenger diharapkan dapat mengungkap lebih dalam dengan rekaman foto yang akan diambil saat melintas kembali pada Oktober 2008 dan September 2009. Messenger baru akan menempatkan diri pada orbit Merkurius setelah melakukan beberapa kali manuver lentingan Selengkapnya...

Laut Pernah Eksis di Salah Satu Bulan Saturnus

Salah satu bulan Planet Saturnus yang bernama Tethys diyakini pernah memiliki laut di bawah permukaannya. Struktur berlembah-lembah di permukaannya yang terlihat di patahn besar permukaannya yang diberi nama Ithaca Chasma saat ini mungkin terbentuk karena aliran air dari bawah yang kemudian membeku.

Mereka memperkirakan retakan raksasa di permukaan Tethys itu terjadi aliran air hangat dari bawah. Namun, air segera membeku karena suhu permukaan yang sangat rendah. Hal tersebut diungkapkan para ilmuwan dalam Konferensi Ilmu Bulan dan Planet-planet ke-39 di Houston, Texas, AS.

Perkiraan tersebut merupakan hasil perhitungan yang dilakukan Errina Chen dan Francis Nimmo dari Universitas California, Santa Cruz, AS. Aliran arus hangat dari bawah merupakan alasan terbesar suhu yang lebih hangat di sekitar patahan raksasa Ithaca Chasma.

Para peneliti berpendapat orbit Tethys terhadap Saturnus awalnya berinteraksi dengan bulan lainnya bernama Dione sehingga terjadi gejolak di bawah kulitnya yang membentuk aliran hangat ke atas. Namun, karena kondisi tertentu, interaksi tersebut terpisah sama sekali dan Tethys terus mendingin.

Pembekuan air di dalamnya memberikan gaya dorong ke permukaan sehingga menyebabkan keretakan. Air diperkirakan pernah berada sekitar 100 kilometer di bawah permukaan, namun, tidak diketahui secara pasti seberapa dalam sebenarnya.

Tethys selama ini dikelompokkan ke dalam objek-objek berlapis es di tata surya yang diperkirakan mengandung kantung air di bawah permukaannya saat ini maupun di masa lalu. Masuk dalam kelompok ini, bulannya Planet Juipter bernama Eropa dan Callisto. Bulan Planet Saturnus lainnya, Enceladus sempat diduga juga memiliki laut Selengkapnya...

Permukaan Mars Mengandung Garam



Perburuan jejak kehidupan di Mars semakin menarik dengan ditemukannya garam di permukannya. Ratusan dataran rendah di planet tersebut terlihat mengandung deposit garam yang mungkin terbentuk sebagai endapan cairan yang menguap.

Tim ilmuwan yang dipimpin Mikki Osterloo dari Universitas Hawaii menemukan deposit klorida setelah mempelajari foto-foto yang direkam wahana Mars Odyssey tahun 2001. Foto-foto beresolusi tinggi direkam kamera THEMIS (thermal emission imaging system) yang dibawa wahana tersebut dan kamera HiRISE yang dibawa Mars Reconnaissance Orbiter.

Dari foto-foto tersebut sejauh ini ditemukan 200 lokasi deposit yang masing-masing selebar kurang dari 26 kilometer persegi. Deposit rata-rata terbentuk di kawasan yang strukturnya terbentuk sekitar 3,8 miliar tahun lalu. Namun, deposit semacam ini kelihatannya sangat biasa dan tersebar di berbagai permukaan Mars.

Penemuan ini mendukung teori bahwa planet tersebut pernah digenangi cairan di masa lalu. Selain itu, ini juga akan menjadi bukti pertama bahwa mineral klorida terdapat di Mars seperti diperkirakan para ilmuwan sejak lama. Mineral seperti itu sangat bernilai karena makhluk hidup tergantung kepadanya.

"Untuk mendukung teori masa lalu yang basah di Mars, saya kira perlu dikirimkan misi pengiriman data langsung dari darat selain instrumen dari orbit," ujar Osterloo. Saat ini di permukan Mars terdapar dua robot kembar penjelajah, Opportunity dan Spirit. Sementara, wahana pengorbit, selain Odyssey, terdapat Mars Reconnaissance Orbiter dan Mars Express Selengkapnya...

Giliran Titan yang Diduga Memiliki Laut



Satu lagi objek langit yang diperkirakan memiliki kandungan air dalam jumlah besar seperti lautan di Bumi. Para ilmuwan NASA memperkirakan air juga tersimpan di dalam perut Titan, salah satu bulan yang mengelilingi Planet Saturnus.

Sebelumnya, air diyakini terdapat di tiga bulannya Jupiter, yakni Europa, Callisto, dan Ganymede. Laporan terakhir, dua bulan Saturnus lainnya, Enceladus dan Tethys juga diperkirakan mengandung air.

Sejauh ini, memang belum ada bukti langsung kandungan air baik di objek-objek langit tersebut termasuk Titan. Namun, hasil analisis rekaman yang dilakukan wahana Cassini yang mendekat objek tersebut menunjukkan bahwa air kemungkinan terdapat pada kedalaman 100 kilometer di bawah permukaannya.

Wahana yang diluncurkan AS dan Eropa itu merekam struktur permukaan Titan menggunakan radar tembus awan tebal. Cassini melakukan 19 kali manuver di sekitar objek tersebut antara Oktober 2005 hingga 2007.

Dari foto-foto yang dikirimkan, para ilmuwan berhasil memetakan 50 objek, seperti danau, lembah, dan gunung di permukaan Titan. Namun, foto-foto terbaru menunjukkan bahwa di beberapa lokasi terjadi perubahan bentuk atau bergerak hingga sejauh 30 kilometer.

Kekuatan angin saja di atmosfer Titan yang sangat tebal tidak terlalu cukup untuk menjelaskan pergeseran ini. Para ilmuwan yang terlibat dalam misi Cassini yakin hal tersebut hanya dapat terjadi jika terdapat air di antara kerak dan intinya.

"Kerak Titan sepertinya begitu mudah bergerak sehingga kami mengaitkannya dengan laut di dalamnya," ujar Ralph Lorenz dari Laboratorium Fisika Universitas John Hopkins yang melaporkan temuan timnya dalam jurnal Science. Lorenz mengatakan, air laut tersebut mungkin beberapa persen amonia karena atmosfernya kaya nitrogen dan unsur hidrokarbon lainnya yang membuatnya bersemu oranye jika dilihat dari kejauhan.

Titan adalah bulan terbesar Planet Saturnus dan bulan kedua terbesar di tata surya setelah Ganymede yang mengelilingi Planet Jupiter. Diameter Titan sekitar 5.120 kilometer atau sedikit lebih besar daripada Planet Merkurius dan Pluto.

"Titan sungguh salah satu yang bentuknya mirip Bumi, bahkan paling mirip, di atta surya--dan mungkin memiliki cuaca seperti di Bumi," ujar Lorenz. Namun suhunya jauh lebih rendah, dan hujan yang turun di permukannya cairan metan, bukan air. Titan telah diketahui mengandung ratusan kali kandungan cairan dan gas hidrokarbon Bumi Selengkapnya...

Ramuan Kehidupan Ditemukan di Enceladus

Bahan-bahan utama pembentuk kehidupan kembali ditemukan di sekitar Planet Saturnus. Wahana Cassini mendeteksi molekul-molekul organik dan air pada semburan di permukaan Enceladus, salah satu bulan planet keenam di tata surya itu.

Semburan berisi campuran gas dan es ditemukan di dekat kutub selatan Enceladus. Saat mengetahui semburan itu pertama kali, para astronom tidak menemukan tanda-tanda tersebut. Namun, saat Cassini melakukan pengukuran langsung 12 Maret 2008 lalu dengan menembus bagian pinggiran semburan tersebut, molekul-molekul organik ternyata ada.

"Uap air merupakan bagian utama. Metan juga ada. Juga karbon dioksida. Ada karbon monoksida. Di sana ada senyawa organik sederhana dan ada senyawa organik kompleks," ujar Hunter Waite, dari Southwest Research Institute di San Antonio, Texas, AS. Ia mendeskripsikan semburan tersebut ibarat minuman berkarbonasi yang berisi gas alam.

Material seperti itu mirip dengan komposisi senyawa kimia pada komet yang diyakini sejumlah ilmuwan sebagai objek yang juga membawa material kehidupan. Yang menjadi pertanyaan sekarang, dari mana molekul-molekul organik itu berasal?

"Gas alam berasal dari tubuh makhluk hidup yang membusuk di Bumi. Namun, kita tidak menyimpulkan sama di Enceladus. Kemungkinan lain geokimia di perutnya menghasilkan moekul-molekul organik," kata Waite. Salah satu pendapat yang rasional, semburan tersebut mungkin berasal dari cairan yang hangat di dalam perutnya. Bahkan, bukan tidak mungkin terdapat laut di bawah keraknya. Selengkapnya...

 

counter

Recent Comment

Recent post